Pengalaman hidup generasi per generasi memiliki perbedaan yang begitu tajam, hingga menggeser pola pandangan orang tua tentang pendidikan atau pun cara pandang bagaimana mendidik anak sebagai tanggung jawab sekolah. Disadari atau tidak lembaga pendidikan saat ini berada dalam posisi serba "repot", banyak urusan yang harus dikerjakan atau pun urusan yang harus diselsaikan dan tekadang tidak ada hubungan sama sekali dengan kegiatan pendidikan.
Banyak sekali beban tanggungan seorang pendidik dewasa ini yang katanya
memasuki era milenial dan mau tidak mau harus menjadi milenial pula.
Menghadapi generasi yang katanya milenial pun terkadang harsberbenturan
dengan masalah sosial yang mengerucut menjadi masalah setara dengan
tindakan setara kriminal karena ujung-ujungnya guru bisa saja masuk
"penjara".
Apa yang terjadi di
tengah masyarakat kita saat ini tanpa sadar menjadi konsumsi publik yang
sebetulnya di masa hidup orang tua dalam dekade kelahiran 70 an
merupakan satu hal yang tidak layak dicontohkan bagi sorang pelajar.
Salah satunya adalah model rambut, perkembangan model rambut di
tingkatan siswa sekolah dasar dan menengah ternyata memiliki berbagai
sebutan dan banyak model gaya, seperti model mohak, narsis, under cut
atau pun model garis. Semua model gaya rambut tersebut tidak pernah
ditemukan pada saat generasi kelahiran 70 an menjadi seorang murid.
Model gaya rambut yang tidak begitu familiar dan terkesan tidak sopan
ini menjadi trendy dan terkadang booming di kalangan pelajar sehingga
tindakan sekolah pun perlu dilakukan dengan memberikan peringatan untuk
merapikan atau pun melakukan pemotongan yang terkadang terkesan acak
acakan hingga tidak rapi atau "petak" dalam bahasa jawanya. Karena
"petak" inilah yang membuat orang tua merasa perlu melakukan protes ke
sekolah.
Berkaitan dengan model
rambut biasanya diiringi dengan rambut yang di cat/di semir, kegiatan
pewarnaan rambut ini biasanya terjadi saat liburan sekolah, sekali lagi
ada dua masalah yang harus dihadapi oleh sekolah untuk kerapian rambut
masalah kedua adalah rambut yang disemir. Sebagai pendidik terkadang
heran juga, mengapa orang tua melakukan pembiaran saat melihat anak
dengan model rambut yang tidak pantas bagi seorang pelajar dan bahkan
disemir yang secara tidak langsung semir rambut untuk saat ini menjadi
pendukung utama atas kerusakan rambut.
Salahkah ketika sekolah harus melakukan sebuah tindakan merapikan
rambut? Melihat posisinya sekolah, bisa dikatakan rambut rapi dan tidak
di semir merupakan standar sebuah penampilan. Namun presepsi orang tua
juga lain, jika penertiban yang dilakukan oleh sekolah terkesan tidak
rapi. Namun jika hal tersebut sampai pada pengaduan ke penegak hukum
saya rasa juga kurang pas dan tindakan yang tidak bijaksana. Secara
psikologis, dikawatirkan ada pembenaran bagi seorang anak bahwa
penampilan rambut yang tidak rapi dan di semir merupakan tindakan yang
benar dan jika berbuat salah pasti orang tua akan selalu membela bahkan
penegak hukum pun berada di depan untuk membela. Sungguh sangat ironis
jika masalah ini berada dan tertanam dalam pribadi seorang pelajar, lalu
bagaimana dengan harapan terbentuknya karakter bangsa di dalam sebuah
pendidikan?
Setelah masalah
rambut dan semir rambut, masalah yang patut dipertanyakan keberadaanya
dalam dunia pendidikan adalah hand phone. Disadari atau pun tidak saat
ini, pendidikan seolah-olah sangat tergantung dengan hand phone terlebih
dengan smart phone. Di lingkungan guru pun ada yang merasa bahwa hand
phone merupakan barang penting dalam pendidikan karena berbagai
informasi bisa di dapatkan di dalamnya.
Meski pun lama memberikan materi Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK), namun keberadaan hand phone sebagai media belajar masih tidaklah
terlalu penting, sebetulnya lebih penting mempergunakan media notebook
atau pun laptop karena penggunaanya lebih luas. Dewasa ini orang tua pun
begitu bangganya membelikan hand phone yang berkelas pada putra putri
kesayangan, dan ironisnya kebanggaan tersebut tanpa diimbangi dengan
kontrol.
Pengalaman masalah di
sekolah yang berkaitan dengan hand phone yang bikin "gaduh" salah
satunya perbuatan mengupload suatu peeristiwa yang pada akhirnya terjadi
contact social di masyarakat yang sebetulnya dapat dihindari jika tidak
ada kehadiran hand phone. Belum lagi kegiatan bully yang sering
dilakukan seorang pelajar melalui sebuah hand phone.
Usia merupakan salah satu jawaban untuk membatasinya, kita masih ingat
saat pertama kali email di temukan, ketika mendaftarkan diri usia yang
dapat diterima adalah usia di atas 16 tahun yang artinya usia saat itu
adalah usia matang untuk bisa berinterkasi dengan duia maya. Namun mesin
masih bisa "diakali", dengan menuakan usia sudah beres urusan dan sudah
bisa digunakan untuk bersosialisasi di media internet.
Batasan usia pun adalah jawaban yang tepat untuk penggunaan kendaraan
bermotor seperti sepeda motor, undang-undang lalu lintas melarang
penggunaan kendaraan bermotor bagi seseorang yang usianya di bawah 17
tahun. Apa yang terjadi di masyarakat kita? Anak sekolah dasar pun bisa
mengendarai sepeda motor, apalagi saat ini dengan hadirnya sepeda motor
matik semakin banyak penggunaan sepeda motor pada usia belia.
Pada handphone dan sepeda motor ini pun sekolah kewalahan dalam
menanganinya, karena tidak ada persamaan persepsi antara sekolah dengan
orang tua. Saat dihimbau tidak diperkenankan membawa hand phone di
sekolah berbagai alasan pun muncul, padahal sekolah pun sudah memberikan
fasilitas penggunaan hand phone sekolah untuk menghubungi orang tua.
Sepeda motor pun juga demikian, alasan orang tua tidak ada yang
mengantar atau tidak sempat mengantar, bahkan dukungan eksternal pun
seakan-akan melegalkan untuk"boleh" membawa motor yaitu fasilitas
penitipan sepeda yang berada di sekitar wilayah sekolah.
Empat masalah berupa model rambut, pengecatan rambut, handphone dan
sepeda motor merupakan empat masalah yang dapat diselesaikan dan
dimusyawarahkan bersama dengan satu itikad bersama-sama membangun
karakter pendidikan yang diharapkan. Ini hanyalah merupakan ungkapan
dari sebagaian masalah yang berkaitan dengan masalah kesiswaan. Generasi
saat ini generasi yang katanya milenial dan bukan jadul lagi, namun
kita yang merasa jadul juga pernah menjadi generasi yang modern pada
saat yang lalu, dengan saat ini kita menerjuni dunia anak milenial
barangkali kita bisa merasakan dunianya dan dapat memberikan apa yang
baik dan apa yang tidak baik bagi generasi milenial.
No comments:
Post a Comment